Category Archives: lain-lain

Kepala Kakap Tanjakan

Kepala Kakap Tanjakan by Abadi Harahap
Kepala Kakap Tanjakan, a photo by Abadi Harahap on Flickr.

Kepala Kakap Tanjakan.

di dekat Bea Cukai Rawamangun

Advertisements

Jangan Intervensi saya, nanti saya kartu merah

Lagi lagi cerita unik dari sepakbola indonesia, kali ini antara petugas keamanan dengan wasit/official pertandingan, bukan antara sporter dengan sporter (udah bosen dengarnya) . :D. Terjadi pada final Piala Indonesia antara Sriwijaya FC vs Arema Indonesia di stadion Manahan Solo, Minggu, 1 Agustus 2010.  Pertandingan kali ini dipimpin oleh wasit berlisensi FIFA, Jimmy Napitupulu. Pertandingan ini berakhir dengan kemenangan Sriwijaya FC sebagai juara Piala Indonesia 2010. Ya.. selamat buat Sriwijaya FC, bonusnya jangan lupa bagi saya ya.. :ngarep:.

Jalannya pertandingan boleh saya bilang seru, serang menyerang antar kedua kubu, seperti sepak bola di eropa loh. alhasil score kacamata untuk kedua team. Namun pertandingan dibabak pertama di-hadiahi sebuah kartu merah untuk kubu Aream an. Noh Alam Shah karena mengangkat kaki terlalu tinggi hingga membhayakan kepala pemain Sriwijaya.

Jalannya babak kedua agak lama dibanding biasanya, tertunda lebih dari 40 menit. Iini karena ada intervensi dari pihak Keamanan “kapolda Jateng” yang menginginkan wasit pertandingan (jimmy) diganti, loh kok..  “Wasitnya tolong diganti. Kalau tidak bisa saya akan bubarkan pertandingan,” kata Alex (kapolda Jateng ) kepada inspektur pertandingan.

Orang PSSI boleh pulang ke Jakarta. Tapi keamanan urusan Kapolda,” kata Alex Bambang. loh kok..

Inspektur pertandingan belum bisa mengambil keputusan. Karena memang pihak keamanan tak bisa serta-merta meminta wasit untuk diganti. Inilah kontrovesi itu, setahu saya wasit lebih berhak dilapangan hijau bahkan dibanding presiden pun.

seperti ini kata jimmy:

Yang berhak mengganti wasit itu adalah wasit itu sendiri. Kalau saya tidak sanggup lagi, kalau saya pincang, saya keram, atau saya sakit perut dengan pemeriksaan dari dokter dan ada surat dari dokter yang mengatakan saya perlu diganti, baru saya boleh diganti. Selama masih mampu memimpin pertandingan tidak seorangpun yang bisa mengganti wasit termasuk presiden.

Jangankan presiden, masuk ke dalam lapangan tanpa seizin saya pun tidak boleh. Itu sebabnya, BLI (PT Liga Indonesia) pun tidak bisa ikut campur, tidak bisa intervensi saya. Pengawas pertandingan juga tidak berhak mengganti saya.


Kapolda mengatakan kepada saya? “Apakah anda bisa memimpin lebih baik lagi di babak kedua?” Trus saya tanya, “Kesalahan saya apa pak?” Katanya, “Kamu tadi tidak lihat kalau pemain nomor sembilan mendorong wajah salah satu lawannya.”

Lalu saya jawab, “Kalau saya lihat pasti saya hukum.” Saya manusia. Selagi saya tidak lihat saya tidak tahu apa yang saya tidak lihat. Oke itu satu. Sekarang giliran saya yang bicara. Piala Dunia antara Jerman lawan Inggris. Inggris membuat gol tapi tidak disahkan oleh wasit. Diganti nggak wasitnya? Ada polisi intervensi? Tidak ada!

Ya, namanya wasih, manusia, tidak luput dari kesalahan, lantas kenapa kapolda menginginkan wasitnya diganti, tidak adil mungkin, maybe, maybe yes, maybe no. Mungkin ini bentuk kecintaan Kapolda kepada sepakbola, ya.

untuk wawancara lengkap wasit jimmy setelah pertandingan bisa liat disini.

Hidup Sepak Bola Indonesia..

Pajak Pencari Kayu

Pajak Pencari Kayu

“Kami makan, hanya saat benar-benar lapar”,tandas Parman (40). Siang itu, panasmenyengat, seakan hendak membakar daun daun jati kering di hutan Kedungserut, Jiken, Blora.Tapi, Parman bergeming, ia terus menggali akar kayu jati bekas ditebang.  Sekujur tubuhnya dibasahi peluh. Untuk mengangkat akar jati yang tertimbun tanah, Parman menggali hingga dua meter. Jika akar itu terangkat, ia belah jadi potongan kayubakar. Selendang kumal, terikat kuat di perut. Tulang rusuknya tampak jelas dilapisi kulit tipis mengkilap,karena keringat. Selendang itu bukan jimat kekuatan.Tapi cara untuk menahan lapar. Mengingatkan,tatkala Rasulullah mengganjal perut pakai batu,untuk menahan lapar. Parman dan pencari kayu lainnya di hutan Kedungserut, melakukan kebiasaan itu, agar tenaga mampu bertahan hingga sore hari.

Perjuangan hidup di hutan Kedungserut, dimulai Parman dan para pencari kayu bakar lainnya, sejak lepas subuh. Mereka berbekal air putih. Menujuhutan, 15 km dari rumah mengendarai sepeda pancal. Sepeda tua yang umurnya sudah puluhan tahun. Kadang, rantainya putus di tengah jalan, kerap juga bannya yang meletus.Blora, dikenal daerah sulit air. Masyarakat desa,mengandalkan hidup dari bertani. Tapi, curah hujan yang kecil, menyebabkan panen rata-rata satu kali setahun. Selanjutnya, mereka mengisi hari-hari dengan merantau menjadi buruh bangunan di kota-kota besar.Meski alamnya keras, banyak juga yang tak lari dari Blora. Mereka tetap bertahan, dengan sumber daya hidup yang terbatas. Bagi yang punya tenaga kuat, mencari kayu bakar seperti Parman, jadi satu satunya harapan hidup. Meski, antara tenaga yangdiperas dengan penghasilan tidak sebanding.

Parman dan teman senasibnya, mulai keluar hutan lepas Duhur. Mereka menyusun tumpukan kayu bakar, hingga dua meter di atas sepeda. Dari dalam hutan, perlahan-lahan sepeda yang sarat muatan kayu bakar, didorong. Tangan-tangan kering, tapi agak kekar itu, bergetar hebat menopang keseimbangan kayu dan sepeda. Sulit membedakan, bergetar karena menahan lapar apa lantaran berat. Tapi, tampak dua-duanya.  Siang merambat pukul 13.30, Parman beriringan dengan temannya menyusuri jalan raya Cepu – Blora. Panas membakar aspal, yang tampak mendidih dari kejauhan. Tapi, kaki para pencari kayu bakar itu, menapak tanpa alas kaki. Dari hutan Kedungserut, mereka menuju ke pusat kota, seperti Jepon. Jika jalan datar dan turun, sepeda sarat muatan itu, dikayuh pelan-pelan. Mereka menempuh jarak 15 km, sembari menjajakan kayu di sepanjang jalan. Jika nasib baik, belum sampai pasar dan tempat pengepul, kayu mereka sudah ada yang membeli di perjalanan. Kayu satu sepeda, biasanya dibeli Rp 25 ribu. Mereka mencari kayu tiap hari, akan istirahat jika badan benar-benar lelah.

Parman, bukan hanya manusia hebat bagi keluarganya. Ia juga pahlawan bagi negaranya. Tiap tahun, ia taat membayar pajak tanah. Dengan lugu ia mengaku, tak mampu membantu Negara, tapi dengan bayar pajak tanah tiap tahun, ia bangga telah berpartisipasi membangun bangsa.  Saya tersedak, mendengar ungkapan manusia hebat itu. Sekaligus malu, melihat prilaku jahat pengelola pajak yang korup macam Gayus dan teman-temannya. Faktanya, bangsa ini tak rapuh karena orang-orang miskin yang mandiri, tapi terancam hancur oleh kelompok elit dan penguasa yang serakah. Memalukan!

*tak habis pikir para pejabat yang menggelapkan pajak....

sumber: Majalah Care Edisi Mei 2010.

http://www.alazharpeduli.com/file_download/MAJALAH%20CARE_MEI%202010.pdf

Mengenal Business Intelligence Software (BI)

Mengenal Business Intelligence Software (BI)

Mohammad Okki

Bicara mengenai software aplikasi dalam dunia industri, sampai saat ini yang merupakan state-of-the- art technology adalah aplikasi ERP (EnterpriseResource Planning). Sampai tahun 2005 ini tidak ada software aplikasi yang dapat melebihi kecanggihan ERP. Tidak mengherankan karena ERP telah mencakup keseluruhan organisasi, dan meliputi semua aktivitas dalam organisasi. Namun bagi yang berkecimpung di dunia IS/ES (Information System/Enterprise System), kita dengan mudah belajar bahwa pasti akan ada aplikasi-aplikasi lain yang akan muncul dan memberikan benefit-benefit baru pada praktisi industri. Benefit yang tidak mampu untuk disediakan oleh software yang lama. Bila kita ikuti trend perkembangan software IS/ES -dari MRP I, MRP II, hingga ERP- titik berat perkembangannya adalah pada otomasi proses bisnis. Inti pemikirannya adalah bila task rutin di tingkat shop floor yang bersifat repetitif bisa diselesaikan oleh komputer (dengan bantuan sistem informasi) maka produktivitas karyawan bisa ditingkatkan. Makin banyak volume pekerjaan yang terselesaikan. Bila produktivitas karyawan meningkat dengan demikian akan terjadi efisiensi produksi. Sebenarnya dari paparan di atas pun, dengan mudah kita dapat kenali kelemahan dari software-software IS/ES tadi. MRP I, MRP II sampai ERP
hanya bicara mengenai efisiensi. Penghematan biaya, penghematan waktu, penghematan inventory, dan lain sebagainya. Bagaimana dengan efektivitas? Di era persaingan global ini, tuntutan untuk “do the right thing” jauh lebih besar dan lebih sulit untuk dilakukan dibandingkan dengan “do things right”. Percuma bicara efisiensi distribusi bila ternyata yang kita produksi tidak laku karena modelnya tidak disukai pasar. Percuma bicara penghematan waktu dan biaya di shop floor bila pesaing kita melakukan outsourcing produksi dan mereka tetap tidak kehilangan competitive edge. Karena itulah muncul topik-topik seperti CRM dan SCM yang populer belakangan ini. Di dunia IS/ES kita mengenal satu software yang sedang banyak dibicarakan, yaitu Business Intelligence Software (BI). Apa itu BI? Business Intelligence Software (BI) secara singkat juga dikenal sebagai dashboard. Ini karena secara umum BI berfungsi seperti halnya dashboard pada kendaraan. BI memberikan metrik (ukuran-ukuran) yang menentukan performa kendaraan (organisasi) . BI juga memberikan informasi kondisi internal, seperti halnya suhu pada kendaraan. Dan BI juga memberikan sinyal-sinyal pada pengemudi bila terjadi kesalahan pada kendaraan,  seperti bila bensin akan habis pada kendaraan. Semuanya berguna bagi pengemudi agar
mampu mengendalikan kendaraannya dengan lebih baik dan mampu membuat keputusan yang tepat dengan lebih cepat. Pada prakteknya, BI akan berfungsi sebagai analis, penghitung scorecard, sekaligus memberikan rekomendasi pada user terhadap tindakan yang sebaiknya diambil. Dengan menjalankan fungsi dashboard, user BI akan mengenali potensi ketidakberesan pada perusahaan sekaligus dengan penyebabnya sebelum hal tersebut berkembang menjadi masalah yang besar. BI akan berfungsi memberikan advance alarm, memberikan informasi trend dan melakukan benchmark. Jadi kenapa perusahaan harus mengadopsi dashboard? Ada 7 keunggulan utama BI
yang akan memberikan value bagi perusahaan:

1. Konsolidasi informasi
Dengan BI dijalankan di dalam perusahaan, data akan diolah dalam satu platform dan disebarkan dalam bentuk informasi yang berguna (meaningful) ke seluruh organisasi. Dengan ketiadaan information assymmetry, kolaborasi dan konsolidasi di dalam perusahaan dapat diperkuat. Dengan konsolidasi, maka dapat dimungkinkan pembuatan cross-functional dan corporate-wide reports. Meskipun harus diakui, benefit ini juga mampu disediakan oleh software ERP.
2. In-depth reporting
Software Business Process Management (BPM) memang mampu memberikan report dan analisis, namun cukup sederhana dan hanya bertolak pada kondisi intern. Sedangkan BI mampu menyediakan informasi untuk isu-isu bisnis yang lebih
besar pada level strategis.

3. Customized Graphic User Interface (GUI)
Beberapa ERP memang berusaha membuat tampilan GUI yang user friendly, namun BI melangkah lebih jauh dengan menyediakan fasilitas kustomisasi GUI. Sehingga tampilan GUI jauh dari kesan teknis dan memberikan view of business sesuai dengan keinginan masing-masing user.
4. Sedikit masalah teknis
Ini karena -pertama- sifatnya yang user friendly meminimasi kemungkinan operating error dari user, dan -kedua- BI hanya merupakan software pada layer teratas (information processing) dan bukan business process management.

5. Biaya pengadaan rendah
Karena BI hanya software yang bekerja pada layer teratas dari pengolahan informasi, harga software-nya tidak semahal ERP. Biaya pengadaannya pun menjadi lebih murah dibandingkan ERP.
6. Flexible databank
BI membuka kemungkinan untuk berkolaborasi dengan ERP sebagai pemasok databank yang akan diolah menjadi reports dan scorecard, namun BI juga dapat bekerja dari databank yang dibuat terpisah. BI pun menjadi terbuka untuk digunakan oleh analis profesional dan peneliti, yang data olahannya bersifat sekunder.
7. Responsiveness
Sifat dashboard (BI) lain yang tidak dimiliki oleh ERP adalah dalam hal kecepatan (responsiveness) . Misalnya pada penghitungan service level sebagai salah satu Key Performance Indicator (KPI). Fungsi dashboard akan memberikan peringatan kepada user sebelum batas bawah dalam service level (lower limit) terlampaui. Akibatnya masalah bisa ditangani sebelum benar-benar muncul ke
permukaan. Salah satu contoh pada industri kesehatan, penggunaan BI berjasa mencegah penyebaran suatu penyakit/wabah secara luas (outbreak). Nama-nama vendor BI memang masih asing di Indonesia. Beberapa nama yang terkemuka antara lain Business Object, Cognos, Hyperion, MicroStrategy, SAS dan Bowstreet. Di Amerika Utara dan Eropa, saat ini kustomer BI telah tersebar luas pada
sektor industri-industri terbesar seperti bank, airline, energi, elektronik, kesehatan, agrikultur. Vendor-vendor BI juga telah berkolaborasi dengan vendor-vendor Supply-Chain, Operating System (Windows, Unix, Linux), dan software BPM seperti SAP, Oracle, IBM dan EMC. Kolaborasi ini menyebabkan kustomer yang mengimplementasikan BI tidak memiliki kesulitan dalam hal integrasi dengan sistem yang selama ini ada di organisasi mereka. Bagaimana trend ke depan? Bila di Indonesia dashboard masih barang yang baru, di Amerika dan Eropa saat ini timbul kecenderungan pengguna BI turun dari level eksekutif ke level office worker. Penggunaan BI pun meluas, dari yang semula hanya ditujukan pada top-level decision-maker ternyata pada prakteknya sangat bermanfaat juga bagi daily decision-maker. Ini karena dashboard -dengan setting metrik yang tepat- bisa mengurangi waktu siklus pengolahan informasi dan pada akhirnya meningkatkan efektivitas karyawan dalam pengambilan keputusan. Bagaimana dengan ukuran industri? Sebagaimana data terakhir pada pertengahan 2005 menunjukkan, 60% perusahaan AS yang berpendapatan di atas $100 juta telah mengimplementasi BI. 40% sisanya berencana implementasi sebelum 2006 berakhir.

Bagaimana industri di Indonesia?

====
Komputer & Teknologi
Tingkatkan SDM IT Indonesia

http://www.komputer-teknologi.net

Komputer-teknologi@yahoogroups.com

Kerja Baru, Kost baru

Tiap pagi gw harus berangkat kurang dari jam 5 pagi, nyampe kantor jam 08 pagi. Skip, skip skip, pulang jam 4 sore atau jam 8 malam. kalau pulang jam 4 sore, nyampe rumahnya(baca kost)  jam 7 malam, tapi pulang jam 8 nyampe 10.30 malam nyampe rumah(baca kost), lebih hemat 30 menit. Rutinitas gw yang baru di kerja baru, cuapek….

Waktu untuk perjalanan kerja, kost total 6 jam/ hari, jam kerja 9 jam( include istirahat 1 jam)  / hari, satu hari 24 jam, jadi waktu yang tersisa 24 – (6 + 9) = 9  jam. Dari 9 jam ini, dipotong  tidur 7-8 jam perhari, sisanya tinggal 1-2 jam. Ketemu pacar kapan? ketemu teman kapan? sosialisasi maksudnya…

Total waktu yang efektif perjalanan rumah – kantor & kantor – rumah adalah 2 jam, jika lewat dari 2 jam,  performance kita untuk kerja itu turun, begitu kata teman baru saja di tempat kerja baru. Dari pada performance kamu turun, sebaiknya pindah rumah saja. Saya pikir itu benar, biar pun diperjalanan kita hanya tidur( di dalam bus), tapi rasa capek itu tetap ada, belum lagi ditambah jalanan macet ( jalan tol aja macet, jakarta jenkk ).

Gw tinggal di daerah petukangan selatan, deket kampus BL. & tempat kerja baru gw di daerah cikarang, Bekasi. Tiap pagi gw naek 69 (Ciledug- Blok M) , dan dilanjut naek yang ke arah UKI( bus nya banyak, gak bisa di sebutin satu satu, gw lupa). Ongkos, 4 rebu ( Ciledug – Blok M – UKI). Gw harus berangkat jam 5 pagi untuk ngejar bus jemputan di daerah cawang, yang berangkat 06.30 pagi teng, gak ada jam karet di sini, sopirnya kejam bgt, gak ada toleransi barang 1 menit pun. Kalo telat, ya naek umum.  Naek mobil 59 yang di dekat halim, ongkostnya 6000, plus ojek 15.000 biar nyampe kantor, kebayang kan. Kenapa tidak naek motor? gw gak bisa naek motor, u mau ojekin gw?

Sekarang gw dah dapat kost di daerah cawang, belakang uki. mo ke tempat bus jemputan tinggal jalan kaki. Tapi sebenarnya, gw masih gak rela pindah kost, gw masih penagn nge kost d tempat lama ( secara gw dah 6 tahun disitu), tapi gw harus pindah ke yang lebih dekat..

Recovery, reclamation and recycling

The Fourth Meeting of the Parties decided:

1.   to annul Decision I/12 H of the First Meeting of the Parties (“Imports and exports of bulk used controlled substances should be treated and recorded in the same manner as virgin controlled substances and included in the calculation of the Party’s consumption limits”).

2.   not to take into account, for calculating consumption, the import and export of recycled and used controlled substances (except when calculating the base year consumption under paragraph 1 of Article 5 of the Protocol), provided that data on such imports and exports are subject to reporting under Article 7.

3.   the Parties also agreed on the following clarifications of the terms “recovery”, “recycling” and “reclamation”:

(a)  Recovery: The collection and storage of controlled substances from machinery, equipment, containment vessels, etc., during servicing or prior to disposal;

(b)  Recycling: The re-use of a recovered controlled substance following a basic cleaning process such as filtering and drying. For refrigerants, recycling normally involves recharge back into equipment which it often occurs “on-site”;

(c)  Reclamation: The re-processing and upgrading of a recovered controlled substance through such mechanisms as filtering, drying, distillation and chemical treatment in order to restore the substance to a specified standard of performance. It often involves processing “off-site” at a central facility.

4.   urged all the Parties to take all practicable measures to prevent releases of controlled substances into the atmosphere, including, inter alia:

(a)  to recover controlled substances in Annex A, Annex B and Annex C of the Protocol, for purposes of recycling, reclamation or destruction, that are contained in the following equipment during servicing and maintenance as well as prior to equipment dismantling or disposal:

(i)   stationery commercial and industrial refrigeration and air conditioning equipment;

(ii)  mobile refrigeration and mobile air-conditioning equipment;

(iii) fire protection systems;

(iv) cleaning machinery containing solvents;

(b)  to minimize refrigerant leakage from commercial and industrial air-conditioning and refrigeration systems during manufacture, installation, operation and servicing;

(c)  to destroy unneeded ozone-depleting substances where economically feasible and environmentally appropriate to do so.

(UNEP/OzL.Pro/4/15 Decision IV/24).

Read the rest of this entry